Monday, January 18, 2016

Rapat pemantapan kegiatan uji terap tahun 2016



Pada tanggal 12- 14 Januari 2015 bertempat di ruang demersal diadakan rapat tentang pemantapan kegiatan pada tahun 2016. Kegiatan pemantapan tersebut membahas tentang semua usulan kegiatan  2015 yang telah di setujui dan perlu adanya perbaikan dalam masing – masing kegiatan tersebut. Adapun kegiatan – kegiatan yang akan dilakukan di tahun 2016 diantara nya :
Kegiatan baru ( Uji Coba )
1.       Uji coba Rawai dasar sisem kelos pada kapal di bawah 5 GT di lebak, banten.
2.       Identifikasi teknis kapal penangkapan ikan
3.       Uji operasional sarana penangkapan ikan dalam rangka pengalihan alat tangkap cantrang dengan alat tangkap lain yang diperbolehkan.
4.       Uji coba alat pengukur karapas rajungan
5.       Uji coba filter pada kompresor angin untuk nelayan selam penagkap teripang di jepara.
6.       Uji coba kotak penyimpanan ikan berpendingin ( Thermo Elektric cooler ) untuk kapal ikan skala kecil.
7.       Uji coba Long bag setnet skala kecil di tarakan.
Kegiatan lanjutan ( uji operasional )
1.       Uji Operasional unit armada rajungan d perairan utara jawa tengah dengan system pendingin kering ( Chiller )
2.       Uji Operasional lampu celup dalam air pada bagan apung di perairan utara jawa  tengah.
3.       Uji Operasional pengumpul ikan dengan LED di Maluku.
4.       Uji Operasional alat pembersih minyak di kolam perairan PPS nizam zahman Jakarta.
5.       Uji Operasional alat bantu penarik jarring ( Power block )
6.       Uji Operasional RSW system pada kapal ikan skala kecil
7.       Uji Operasional Artificial habitat di waduk gajah mungkur.
Kegiatan pilot project
1.       Pilot project d ikan layang untuk ikan  hidu di Maluku
2.       Pilot project palka ikan berinsulasi
3.       Pilot project dan sosialisasi penanguan ikan tuna diatas kapal dengan pancing ulur tuna .( Hand line ) di pacitan, Jawa timur
4.       Pilot project atractor cangkang kerang untuk rumah ikan.
5.       Kajian konstruksi alat penangkapan ikan di perairan PUD ( danau Tondano )

Dari hasil rapat pemantafan kegiatan ujin terap 2016 di hasilkan beberapa revisi. Tujuan revisi tersebut agar kegiatan yang akan berjalan bisa lebih matang dan lebih baik. Dan dalam rapat tersebut di sampaikan bahwa dalam presebtasi yang perlu diperhatikan adalah : Konsep kegiatan, Rincian kegiatan termasuk jadwal, Indikator keberhasilan dan rencana personil.
BBPI, Semarang sebagai tempat inovasi diharapkan inovasi tersebut bisa langsung mengena pada nelayan. Bukan hanya sekedar inovasi tapi inovasi tersebut untuk mendukung tugas dan fungsi BBPI.  Semoga setiap inovasi yang di hasilkan BBPI bisa dimanfaatkan oleh nelayan. Demi peningkatan taraf hidup nelayan.

Sunday, January 17, 2016

Alat Tangkap Bubu


Pengertian/definisi alat tangkap bubu
            Bubu adalah salah satu jenis alat penangkap ikan yang dioperasikan secara pasif di dasar perairan. Bentuk bubu sangat beraneka ragam, ada yangberbentuk segi empat, trapesium,silinder, lonjong, bulat setengah lingkaran, persegi panjang dan bentuk lain. Bubu dilengkapi dengan pintu masuk (injab). Pintu ini dikontruksi sedemikian rupa agar Ikan, Udang, atau Rajungan dapat leluasa masuk ke dalam bubu, tetapi sulit meloloskan diri keluar dari dalam Bubu (Martasuganda, 2008).
            Bubu pada umumnya berukuran tidak terlalu besar. Dibandingkan dengan alat yang sejenis alat bubu dapat lebih mudah dipindahkan dari satu tempat penangkapan ke daerah penangkapan lain, sehingga bubu merupakan suatu jenis bangunan penjebak/perangkap yang dapat dijadikan sebagai alat sampingan. Berguna untuk menambah/meningkatkan hasil pendapatan nelayan bersangkutan (Mulyadi, 2000).
Klasifikasi Bubu
            Menurut Brandt (1984), bubu diklasifikasikan ke dalam traps. Perangkap (traps) dan penghadang tersebut ialah semua alat penangkap yang berupa jebakan. Alat penangkap ini sifatnya pasif dibuat dari anyaman bamboo (bamboos netting), anyaman rotan (rottan netting), anyaman kawat (wire netting, chicken wire), kere bamboo (bamboos screen), misalnya bubu (fish pot atau fyke), sero (guiding barrier, stake traps), lain-lainnya (subani dan barus, 1989).
            Menurut Dulgofar (2000), bubu yang digunakan oleh para nelayan dapat diklasifikasikan berdasarkan bentuk atau sasaran alat tangkap ini, yaitu :
1.   Klasifikasi menurut bentuk bubu
a. Bubu berbentu kerucut terpotong
Bentuk bubu seperti ini lebih stabil di dasar laut. Jenis bubu ini biasanya di gunakan untuk mengkap kepiting atau udang. Bila dipergunakan untuk menangkap kepiting, pintu masuk (injab) bubu ini dipasang pada bagian atas, sedangkan bila dipergunakan untuk menangkap udang, pintu masuknya dipasang pada bagian samping.
b. Bubu berbentuk pyramid terpotong
Jenis bubu ini dapat digunakan untuk menangkap ikan atau berbagai jenis lobster;
c. Bubu berbentuk silinder
Bubu berbentuk silinder umumnya digunakan untuk menangkap ikan demersal, seperti Kakap, Kurisi, Kerpu, dan lain-lainnya;
d. Bubu berbentuk semi silinder
Bubu berbentuk semi silinder umumnya digunakan untuk menangkap udang karang atau lobster; dan
e. Bubu berbentuk kotak
Bubu berbentuk kotak biasanya digunakan untuk menangkap ikan atau kepiting.
2.    Klasifikasi bubu berdasarkan sasaran tangkapan
a. Bubu kepiting;
b. Bubu udang;
c. Bubu lobster;
d. Bubu ikan;
e. Bubu cumi-cumi;
f. Bubu kerang;

PRODUKSI RAJUNGAN DI KABUPATEN REMBANG TAHUN 2014



Rajungan merupakan salah satu komoditas sumberdaya perikanan yang prospekif untuk di ekspor, karena Rajungan di Indonesia sampai sekarang masih merupakan komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi yang diekspor terutama ke negara Amerika, yaitu mencapai 60 persen dari total hasil tangkapan Rajungan (Nugraha, 2011). Rajungan (blue swimming crabs) merupakan biota laut yang bernilai gizi tinggi, merupakan komoditas ekspor dengan nilai jual yang mahal dan semua bagiannya dapat dimanfaatkan, diantaranya daging Rajungan banyak digunakan sebagai bahan baku Rajungan kalengan, cangkang atau kulit Rajungan dapat diolah sebagai bahan baku kosmetik serta beberapa industry lainnya (Soegiri et al, 2014).
Menurut Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Saut Hutagalung dalam Jurnas (2014), tahun 2013 lalu tercatat ekspor Rajungan senilai USD367 juta, sebesar USD190 juta diantaranya adalah nilai ekspor Rajungan ke Amerika Serikat. Sementara, tuna ke negeri Paman Sam sebesar USD115 juta.Sedangkan, udang yang nilainya 65% dari total ekspor perikanan memiliki nilai USD 900 juta.Permintaan pada Rajungan terbilang tinggi.Amerika Serikat adalah pasar utama dengan volume sekitar 10.900 ton.Tuna, hasil olahannya tidak sevariatif Rajungan.Ini yang membuat permintaan pada kepiting besar ini bertambah terus.Padahal, Rajungan belum bisa dibudidayakan dan bahan bakunya masih didapat dari alam.
Berdasarkan data Statistik Perikanan Tangkap Indonesia (KKP, 2011) menunjukkan bahwa produksi perikanan  pada periode tahun 2001 - 2011, volume produksi perikanan tangkap meningkat rata-rata sebesar 2,93% per tahun, yaitu tahun 2001 sebanyak 4.276.720 ton menjadi 5.714.271 ton pada tahun 2011. Volume produksi perikanan tangkap di laut pada periode tersebut meningkat rata-rata sebesar 3,06% per tahun, yaitu dari 3.966.480 ton pada tahun 2001 menjadi 5.345.729 ton pada tahun 2011. Sementara itu berdasarkan catatan Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebutkan potensi sumberdaya ikan laut Indonesia diperkirakan sebesar 6,62 juta ton per tahun, terdiri dari jenis ikan pelagis besar 1,05 juta ton per tahun, pelagis kecil 3,24 juta ton per tahun, demersal 1,79 juta ton per tahun, udang 0,08 juta ton per tahun, Cumi-cumi 0,03 juta ton per tahun dan ikan karang 0,08 juta ton per tahun. Data tersebut menunjukan bahwa potensi perikanan Indonesia cukup besar sebagai salah satu negara produsen ikan konsumsi laut dunia.Berdasarkan data FAO (2007) Indonesia menduduki peringkat ke-6 dunia dalam menghasilkan ikan. Sementara dalam jajaran eksportir, Indonesia menduduki peringkat ke-10 setelah Thailand, Norwegia, AS, China, Denmark, Kanada, Taiwan, Cili dan Rusia.
Penyebaran Rajungan di Indonesia meliputi wilayah yang sangat luas yakni wilayah perairan Laut Jawa, Selat Malaka, Laut Cina Selatan, Selat Makasar, Samudra Hindia dan Laut Arafur. Potensi sumberdaya perikanan tersebut sesungguhnya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi sampai saat ini potensi tersebut belum dioptimalkan (Efendy, 2001).
Potensi produksi secara nasional untuk bagian Utara dan Selatan Sumatera masing-masing adalah sebesar 14% dan 21%.Sedangkan untuk Utara Jawa dan selatan Sulawesi masing-masing adalah sebesar 14% and 21%. Wilayah perairan pesisir lainnya seperti:  Barat Sumatera, Barat dan Timur Kalimantan, Selatan Jawa, NusaTenggara, Maluku dan Papua hanya memberikan kontribusi sebesar 5% dari produksi Rajungan di Indonesia. Beberapa daerah dengan potensi Rajungan tertinggi tersebut tercatat sebagai lokasi penangkapan Rajungan untuk tujuan ekspor, seperti: Bangka Belitung, Lampung, Panimbang, Labuhan, Serang, Karawang, Cirebon, Juwana, Rembang, Madura, Barru, Maros, Makassar, dan Kendari (BBPPI, 2013)
Kegiatan penangkapan Rajungan dapat dilakukan dengan berbagai jenis alat penangkapan yang selama ini telah berkembang, terutama dari kelompok jaring (Jaring klitik, Trammel net, Gill netlainnya, aneka pukat: Cantrang, Dogol danTrawl). Cara ini disamping kurang ramah lingkungan (kurang selektif) juga kualitas hasil tangkapanya lelatif rendah (umumnya mati dan rusak). Dari aspek sumberdaya, cara ini jelas berdampak pada pemborosan sumberdaya karena Rajungan merupakan hasil sampingan yang sering sia-sia dan yang tertangkap menjadi tidak bernilai meski dalam jumlah besar. Disamping itu metode penangkapan tersebut cenderung akan merusak habitat dan komunitas Rajungan pun menjadi cepat berkurang (Zarochman, 2005).
Martasuganda (2003), menyatakan bahwa bubu merupakan alat tangkap yang bersifat pasif, dipasang di dasar perairan sekitar terumbu karang, dengan pengoperasian yang baik dan benar, penangkapan Rajungan atau ikan dengan bubu ini tidak akan merusak karang. Dibandingkan dengan alat tangkap trawl, bubu memiliki kelebihan, yaitu lebih selektif yaitu alat tangkap yang hanya dapat menangkap sarana penangkapannya. Menurut Martasuganda (2008), alasan utama pemakaian bubu di daerah penangkapan kemungkinan disebabkan oleh beberapa pertimbangan seperti, adanya larangan mengoperasikan alat tangkap selain bubu, topografi daerah penangkapan yang tidak mendukung, kedalaman daerah penangkapanyang tidak memungkinkan alat tangkap lain untuk dioperasikan, biaya pembuatan alat tangkap tergolong murah, pembuatan dan pengoperasian alat tangkap tergolong mudah, hasil tangkapan dalam keadaan hidup, kualitas hasil tangkapan bagus, hasil tangkapan biasanya bernilai ekonomis tinggi dan tersedianya stok ikan atau biota air lainnya yang dapat ditangkap dengan bubu.
Menurut Ameriyani (2014),Kabupaten Rembang merupakan wilayah yang terletak di pantai Utara Propinsi Jawa Tengah, dengan luas wilayah sekitar 1.014 km² dan panjang garis pantai 63 km. Sebesar 35% dari luas wilayah Kabupaten Rembang merupakan kawasan pesisir yaitu seluas 355,95 km².Kabupaten Rembang memiliki 14 kecamatan, 6 diantaranya berada di tepi laut.Posisi Kabupaten Rembang yang dekat dengan laut seharusnya menguntungkan karena mempunyai potensi sumber daya laut yang besar.Namun kenyataannya kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Rembang masih kurang.Ini berarti potensi laut perlu diarahkan pengembangnnya, sehingga perekonomian Kabupaten Rembang bisa meningkat.Data produksi Rajungan Kabupaten Rembang Tahun 2014 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 1. Data Produksi Rajungan Kabupaten Rembang 2014
No
Bulan
Produksi (kg)


1
Januari
24,310.80


2
Februari
22,783.00


3
Maret
16,385.50


4
April
17,646.00


5
Mei
20,766.00


6
Juni
18,993.00


7
Juli
14,384.00


8
Agustus
12,653.00


9
September
10,666.00


10
Oktober
9,386.00


11
November
10,279.00


12
Desember
19,058.00


Total
197,310.30


Sumber : Data produksi KUB
Berdasarkan tabel diatas maka dapat diketahui total produksi Rajungan di Kabupaten Rembangsebesar 197.310,30 Kg. Pada bulan Januari merupakan musim puncak penangkapan Rajungan, produksi rajungan sebesar 24.310,80 Kg sedangkan musim paceklik terjadi pada bulan Oktober dengan produksi Rajungan sebesar 9.386 Kg. Produksi Rajungandipengaruhi oleh musim penangkapan dan cuaca, dimana pada bulan Oktober cuaca di perairan Kabupaten Rembang, angin dan ombak cukup besar sehingga banyak nelayan tidak melaut.
Produksi perikanan Kabupaten Rembang mengalami peningkatansebesar  68,93 %  dari tahun 2008 sampai  tahun 2012 . Produksi perikanan tangkap yang terdapat di Desa Kabongan Lor Kabupaten Rembang merupakan perikanan tangkap  skala kecilsehingga pemanfaatan potensi sumberdaya laut  masih rendah dengan adanya fakta bahwa sumber daya perikananyang cukup potensial di perairan Rembang bagi nelayan skala kecil, maka perlu dilakukan penelitian untuk meningkatkan hasil tangkapan Rajungan.Menurut Kennely dan Craig (1989), beberapa faktor yang mempengaruhi hasil tangkapan dari alat tangkap bubu antara lain adalah bentuk perangkap, umpan, kompetisi antar bubu, soaking time maupun posisi penempatan bubu di perairan. Adanya beberapa faktor yang mempengaruhi hasil tangkapan Rajungan tersebut, maka penelitian tentang perubahankonstruksi bubu dan jenis umpan yang digunakan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan hasil tangkapan Rajungan di Desa Kabongan Lor Kabupaten Rembang.